Babinsa Awangpone Hadiri Kegiatan Pendataan Penanganan Anak Tidak Sekolah Melalui Anak Kembali Sekolah

  • Bagikan

BONE – Keterjangkauan pelayanan dasar seperti akses terhadap pendidikan, menjadi masalah di desa Cumpiga kecamatan awangpone karena luas wilayah dan jumlah penduduknya yang besar. Pada tahun 2021, tercatat anak kurang mampu dan putus sekolah Karna adanya penyakit covid 19 di desa Cumpiga dan tidak bersekolah.

Menurut data yang dirilis tahun 2021 oleh Development Forum, angka anak tidak sekolah paling banyak ditemukan di Kecamatan kecematan Awangpone yang mencapai 1.90 anak dan Losari 1.90 anak. Melihat kenyataan tersebut, Pemerintah Kabupaten bone meluncurkan inovasi Gerakan Kembali Bersekolah (GKB).

Babinsa Koramil 06/Awangpone Kodim 1407/Bone Pelda Hammasing menghadiri kegiatan Dampak dari lahirnya inovasi ini dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Sebanyak 1.90 anak telah dikembalikan ke sekolah pada tahun 2020 dan 1.90 anak pada tahun 2021. Lebih lanjut, Gerakan Kembali Bersekolah dibangun untuk membantu pemerintah meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di bidang pendidikan serta memutus rantai kemiskinan antar generasi.

“Sebelumnya, masyarakat organisasi bersekolah karena faktor ekonomi orang tua, motivasi rendah, bekerja, dan disabilitas. Tapi sekarang perlahan berubah,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Bone saat Presentasi dan Wawancara Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik di Kantor desa cumpiga Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) beberapa waktu lalu.

Upaya mengembalikan anak tidak sekolah (ATS) kembali ke sekolah ini merupakan komitmen pemerintah dalam mewujudkan cita-cita luhur, yakni memastikan semua anak di desa mengenyam pendidikan baik di formal, nonformal dan informal. “Gerakan ini memberikan kesempatan kedua bagi anak yang putus sekolah untuk mendapatkan masa depan yang lebih bagus,” imbuhnya.

Mekanisme kerja inovasi ini dimulai dengan pendataan anak tidak sekolah oleh desa dan sekolah. Data ini kemudian dikoordinasikan oleh camat dan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan di seluruh kecamatan untuk melengkapi data Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM).

Basis data SIPBM menjadi awal gerakan kembali bersekolah ini bergema, karena data SIPBM dijadikan sebagai rujukan dalam pemanfaatan data basis perencanaan di kabupaten hingga ke desa. Pemerintah Kabupaten bone menggelontorkan dana untuk menangani ATS dari sumber dana APBD Kabupaten. Masing-masing desa di Kabupaten bone juga turut berkontribusi dengan mengalokasikan minimal Rp 15 juta dari dana desa untuk mengatasi anak tidak sekolah kembali bersekolah. Pendanaan inovasi ini juga didapat dari Desa Cumpiga, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone. Sabtu (18/09/2021),

Kades menyampaikan Upaya mengembalikan ATS kembali ke sekolah juga diatur dalam Peraturan Bupati No. 116/2021 tentang Rintisan Penuntasan Pendidikan Dua Belas Tahun. Sebuah komitmen yang kuat, agar para pengambil kebijakan di level kabupaten, kecamatan dan organisasi peduli pendidikan ikut menyukseskan program pengembalian anak tidak sekolah kembali bersekolah melalui Gerakan Kembali Bersekolah.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *